Nov 16, 2011

udon a la siwi

coba-coba 

setelah ngubek-ngubek folder foto di handphone..nemu foto ini..nyoba-nyoba bikin udon *tp gak kayak udon meski tetep enak kok :D,,dan saya lupa resepnya teman-teman..hiks
untuk mie nya saya ngadon tepung sendiri..jadi bebas pengawet..setidaknya jauh lebih sehat dari pada mie instan :D

Nov 15, 2011

szechuan chicken a la siwi

szechuan chicken (*kata buku resep sih gituh namanya)
ahaaaaay,,mari masak lagi
hari ini judul masakannya szechuan chicken (harusnya szechuan beef, namun karena gak nemu daging has dalam ya sudah lah pake dada ayam fillet)...resepnya nyontek buku resep,,tp ga plek-plek sih..

bahan:
250-500 gr dada ayam fillet (potong sebesar jari kelingking)
2 batang daun bawang (potong serong tipis)
tauge secukupnya
1 buah wortel (iris korek api)
1 ikat pokcay (potong-potong,sisakan 3 lembar pokcay yang daunnya lebar unt alas)
4 siung bawang putih (geprek kemudian cincang halus)
1 ruas (ukuran ibu jari) jahe cincang halus
10 buah cabai merah kering (kalau gak ada ganti cabe rawit merah 5buah cukup bikin lidah kebakaran :P) potong serong
air kaldu secukupnya (bisa pake kaldu bubuk)
garam dan gula secukupnya
lada hitam bubuk secukupnya

bahan marinasi dada ayam fillet:
1 sdt lada hitam (tumbuk kasar)
1 sdm saos tomat
1 sdt paprika merah bubuk
1 sdt kecap asin
1 sdm kecap manis
1 sdt perasan jeruk nipis
(kalau mau bisa ditambahkan minyak wijen, saya gak pake karena gak ada minyak wijen hehe)

cara masaknya..
rendam dada ayam fillet yg telah dipotong dengan bahan-bahan marinasi diatas kurang lebih 30menit (bisa lebih agar lebih meresap bumbunya kedalam ayam)
panaskan minyak goreng, kemudian tumis bawang putih dan jahe hingga harum
masukkan rendaman dada ayam fillet hingga berubah warna lalu masukkan air kaldu (kaldu bubuk dengan air) tunggu hingga ayam matang,,bumbui dengan garam dan gula secukupnya dan tambahi dengan lada hitam bubuk 1 sdt
kemudian masukkan cabai merah kering bersama wortel, tunggu hingga wortel matang (empuk)
terakhir masukkan daun bawang, pokcay, dan tauge..masak sebentar kemudian angkat
tuang keatas piring saji dengan alas daun pokcay yg lebar...

semoga enak yaaa :D

Nov 14, 2011

cucut santan a la siwi

akhirnya bisa bikin garnish 

Pamer masakan lagi :D hahahha, setelah sekian lama coba-coba masak, akhirnya saya bisa juga masak yang agak-agak ribet.
Ikan cucut santan pedas *saya sendiri yang namain*

Dan itu mawar tomat pertama yg saya buat untuk garnish nya. 

si DD yang sudah uzur

Kejadian ini sudah lama sekali tapi baru inget untuk posting :D,,better late than never kata orang-orang..
ini kejadian awal juli kemarin.
Ahad, 3 Juli 2011, saat saya, ibu, pakdhe, budhe, kakak dan adik sepupu akan mengunjungi rumah pakde di daerah Jagakarsa karena ada Opa (adik dari mbah putri),yg baru datang jauh-jauh dari Belanda, dengan menggunakan mobil ayah (Toyota kijang taun entah berapa yg di ekspor langsung dari Makassar, bahkan plat nomornya masih DD).
Awal perjalanan masih seneng-seneng aja. Kebiasaan keluarga dari ibu yang suka sekali ngebanyol dan ngobrol-ngobrol.
Tol JORR saat itu padat, agak-agak macet dikit. Selalu dan tidak heran hingga Tol pun sering macet. Definisi tol sebagai jalan bebas hambatan sepertinya perlu dikaji ulang. Yak mari lupakan definisi tol dengan kemacetannya. Sekitar beberapa ratus meter dari pintu keluar tol Depok. Mobil yg kami tumpangi bunyi.
Blep blep blep *anggap saja seperti itu bunyinya*
“bunyi apaan ya itu, Pakde?” aku nengok-nengok kearah jalan sembari bertanya ke Pakde ku yg menyetir.
“wah gak tau. Pakde minggir-in mobil dulu”
Sesaat kemudian mobil kami menepi di jalan tol. Dan, ngooooook, ban mobil kempes *bahkan robek terkena paku*. Seketika se mobil panik. Yooo men, di mobil Cuma ada satu lelaki, Pakdhe ku seorang, dan beliau pun sdh berumur. Sisanya 2 ibu-ibu yg ga bisa apa-apa, satu anak perempuan kelas 5 SD, aku dan mba devan (sepupu ku) yang tidak tau-menau urusan permontiran atau bongkar pasang ban di jalan tol.
Haiiiissssssssshhhhh…
Ujian pun dimulai. Pakdhe ku mengambil dongkrak dan apalah itu besi untuk membongkar ban mobil yg kempes. Sembari kami (pakdhe, mba devan, dan aku) mendongkrak mobil sambil menurunkan ban serep dari bawah mobil, sang ibu-ibu dan adik sepupu ku menunggu di tempat petugas loket tol solat. Masih bersyukur, krn saat kejadian dekat dengan pintuk masuk tol. Petugas membantu menelponkan mobil Derek dan kemudian pulang, krn jam kerjany sdh habis. Berganti shift dgn yg lain. Oke 15 menit, 30 menit tak kunjung datang si mobil Derek. Wajar lah, krn saat itu kondisi tol macet.
Dongkrak ny kini berulah, tidak mau mendongkrak hingga batas maksimal sehingga ban mobil masih menempel ditanah. Kemudian ban serep susaaaaaah sekali diturunkan. Hingga akhirnya seorang mas-mas berkulit coklat mendatangi kami. Membantu. Tak sekedar menelpon mobil Derek lantas pergi.
1 jam berlalu, akhirnya ban mobil bisa terpasang. Berkat si mas-mas berkulit cokelat itu.
Ditengah kondisi ribet seperti itu sempat2nya kami mengabadikannya.

Model: Mba Devan, dan Mobil Toyota Kijang entah tahun berapa
‘photographer’: si siwi

Nov 1, 2011

Gumam Rumpun Selibu

Saat saya sedang ngubek2 meja computer mencari amplop cokelat berbubuhkan sebuah alamat penting, saya menemukan buku diatas. “Gumam Rumpun Selibu”
Ada yang tau? Atau ada yang pernah membacanya?
Buku ini unik. Sebuah kisah perjalanan dakwah teman-teman kampus. Tepatnya dakwah kampus Pertanian UGM.

Pasti penasaran (ga juga sih :D ) dari mana saya bisa mendapatkan buku kumpulan cerpen (namun kisah nyata) ini? Sedangkan saya saat ini berkuliah di daerah Depok Jawa Barat, Kampus yang berbeda dengan para punggawa dakwah di buku ini.Tapi perlu diingat juga saya pernah kuliah di kampus itu :D hoho, sebelum akhirnya memutuskan pindah krn lulus seleksi di kampus bilangan Depok pada tahun selanjutnya.
Saya mendapatkan buku ini sekitar dua tahun silam dari seorang senior saya dulu di Perikanan sebut saja namanya Panji Arohman (itu nama sebenarnya deng :P ). Beliau menghubungi saya saat saya sedang di Pare, Kediri, daerah yg terkenal dengan nama Kampung Inggris, menjajal untuk belajar Bahasa Inggris disana. Singkat cerita saya iya-kan untuk memesan dua buku. Setelah penantian panjang (halaaah lebay) akhirnya buku itu ada ditangan saya melalui senior saya lainnya, Mba Tika, yg kini berdomisili di Depok bersama suaminya, dekat dengan kampus saya.

Kurang dari satu malam buku itu selesai saya baca. Dari tiap-tiap paragraph yg ditulis oleh senior-senior saya dulu dan beberapa kawan saya (maupun dari beberapa penulis yg saya tidak pernah mengenalnya) di Pertanian membuat saya mengenang dan serasa saya juga turut dalam lingkungan itu. Dakwah Pertanian.  Buku itu menceritakan bagaimana kisah-kisah mereka dalam dakwah mereka. Susah, senang, bahagia, air mata, pertengkaran, kesedihan yg mereka rasakan sebagai satu tubuh. Ukhuwah sebutan itu yang mereka kenalkan dalam buku ini.

Saya bingung, karena saya membeli buku tsb 2 buah, mau diapakan yang satunya lagi. Akhirnya saya hibahkan ke perpustakaan musholah departemen atau ke FUSI. Saya lupa, seingat saya saya berikan pada teman saya yg berkecimpung dalam lembaga kerohanian di kampus. Dengan harapan buku ini mampu memberikan semangat aktifitas dakwah di Dept saya untuk menggeliat dan berkembang. Saat itu.

Ah indah memang. Namun saya hanya sedikit merasakan kebersamaan dalam lingkungan itu, hanya 2 semester, bahkan pada di semester ke-2 nya pun saya ‘menghilang’ dari Kampus. Dengan segudang alasan pembenaran sikap saya kala itu. KMMP, Partai Gazebo, KAB, KMIP dan sejumlah kosa kata baru yang saya jumpai kala itu.
Awal semester 1 di Perikanan. Saat kelas Pengantar Ilmu Perikanan, ada lembaran kerta yang berputar-putar (dioper-oper maksudnya) dan mendarat di bangku saya. Seksama saya baca. Open Recruitment staf dalam KMIP (saya lupa kepanjangannya). Ada beberapa departemen yang saya ingat (krn saya tertarik pada dept tsb) hanya Jaringan Eksternal dan PKSG (maaf ini lupa lagi kapanjangannya apa). Dan saya memilih bergabung di Dept PKSG. Mendapatkan ‘Bos’ yg betawi bgt ngomongnya (*bagi tersangka yg merasa :P ). Selang tidak berapa lama, saya sering diajak untuk ikut kegiatan yg diadakan KMMP (lembaga kerohanian tingkat fakultas), dan nyerempet2 di KAMMI, dan ‘dijebloskan’ di KAB (semacam KIR di SMA). Semuanya berjalan baik-baik saja hingga menjelang akhir semester 2. Sibuk ini itu, wara-wiri kesana kemari, bikin essay untuk TK ini TK itu, daurah ini itu. Yaa, seperti teman2 seperjuangan lainnya.

Hingga akhirnya saya merasa perlu fokus pada satu saja. Saya mulai menghilang dari fakultas. Hanya bertahan di KAB dan JS hingga akhir saya benar-benar meninggalkan kampus tsb. Pindah. Tanpa ada satu orang teman pun yang tau sebelumnya. Aaah, arogansi pribadi. Dan kini, setelah lbh 4 tahun lalu, saya tiba-tiba rindu pada kampus itu. Rindu dengan kota itu. Dan rindu dengan aktivitas yg saya ikuti kala itu. Aktivitas Dakwah
UGM, Pertanian, dan Yogyakarta.
Ps: saya masih penasaran kira2 buku yg satu lagi ada dimana ya?